ARTI AMUNGME

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum

Amungme

 Suku Amungme adalah bagian dari suku bangsa di Papua yang mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di Agimuga dan kota Timika.

Secara harafiah Amungme terdiri dari dua kata yang memiliki makna berbeda yaitu “amung” yang artinya utama dan “mee” yang artinya manusia, menurut legenda yang diwariskan turun temurun, konon orang Amungme berasal dari derah Pagema (lembah baleim) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata kurima yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang.

Orang Amungme percaya bahwa mereka adalah keturunan pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju abadi yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Orang Amungme berasal dari suku Damal, keluarga besar eogam-e, anak sukunya adalah suku Delem yang hidup di sepanjang sungai Memberamo.

TERIMAKASIH

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum

Atas nama saya pribadi saya sangat-sangat terimakasih sebesar -besar nya kepada teman-teman yang punya niat baik untuk kumpulan kami keluarga mimika dan teman-teman merubah ini tidak salah dan  di dunia ini semua hal itu di ciptakan oleh manusia dan untuk merubah hal itu pun juga oleh manusia sehingah saya peribadi memberikan jempol kepada teman-teman di joglo. yang menjadi tuhan rumah dan mempasilitasih kami untuk mengikuti mubes yang di selengarakan kota yog ya.

dan juga saya tidak lupa terimakasih saya kepada tim  pormatur dan panitia

                                                                  Axl/sk

Perihal Penyesuaian Nama Organisasi

Author: Minggus Renyaan  //  Category: Pembicaraan Umum, Uncategorized

Hormat!

Mohon maaf saya sela sebentar…

Coba teman-teman resapi baik baik makna kalimat dibawah… hiraukan dulu siapa saya… buka hati dan pikiran untuk mengijinkan kalimat-kaliman dibawah masuk dengan makna seutuhnya secara objektif dan aktifkan kepekaan melihat situasi dan kondisi Mimika sekarang untuk teman renungkan baik baik secara bijak… karena saya yakin teman-teman semua adalah orang bijak dan mahasiswa yang intelek. 

IPMAMI atau yang dulu dikenal dengan IPMAK merupakan sebuah organisasi kemahasiswaan yang mewadahi pelajar dan mahasiswa asal kabupaten Mimika untuk pengembangan diri yang kritis, humanis, religius dan berintegritas. Nama organisasi mengalami penyesuaian dari IPMAK menjadi IPMAMI pada saat diadakannya mubes IPMAK tahun 2007 di Kaliurang, Yogyakarta yang mana menurut AD/RT IPMAK se Jawa-Bali Bab 1 Pasal 4 menjelaskan bahwa wewenang tertinggi IPMAK berada pada Musyawarah Besar Anggota. Latar belakang penyesuaian nama ini adalah agar menjadi stimulan demi kebersamaan dan mengikis jarak dan perselisihan antar suku atau pendatang yang sehati dalam satu payung yang lebih besar, yaitu Kabupaten Mimika. Dengan kebersamaan ini akan menjadi power yang lebih besar juga dalam rangka  menjawab tantangan global sejalan dengan adat dan tradisi leluhur lokal. (Think Globaly and Act Localy).

 The points are:

1. Penyesuaian bukan Pergantian.

2. Mubes Anggota adalah wewenang tertinggi organisasi.

3. Penyesuaian nama didiskusikan, diargumentasikan dengan alot dan diputuskan pada saat Mubes.

4. Tim Formatur dan Panitia mubes sudah melayangkan surat undangan ke semua korwil beserta orang-orang penting, sudah telpon.. sms.. bahkan ada yang sampai didatangi untuk menyampaikan harapan untuk partisipasinya pada mubes. Jika memang berhalangan untuk hadir… berarti ada yang lebih penting dari tugasnya atau jabatan organisasinya di IPMAK atau mungkin memang IPMAK tidak penting lagi baginya…

5. Jika tidak ada yang berinisyatif untuk meneruskan IPMAK pada situasi sudah 2 tahun vakum (baca: mengadakan mubes karna pada AD/RT masa kepemimpinan sampai tahun 2005 tetapi setelah itu tidak ada yang bergerak untuk mengadakan mubes hingga tahun 2007) sapa lagi yang mau bicara dan bergerak dengan tindakan nyata…!!?? Semua punya ide… sudah dibahas… dibicarakan… lalu…? ada outputnya kah kalau tidak ada tindakan nyata…!??

6. Tolong pahami dan hargai.

 Ok. Terima kasih…

silahkan lanjutkan diskusinya…. :)

Amolongo,

Minggus Renyaan.

menguak pesona papua

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum

Papua, KONFLIK dan perang antarsuku. Boleh jadi dua persoalan inilah yang kerap muncul di benak masyarakat Indonesia ketika mendengar atau menyebut kata Papua (dulu Irian Jaya).

Papua, diakui atau tidak, memang kerap memunculkan kontroversi jika kita keberatan menyebutnya sebagai konflik. Ketika provinsi itu akan dimekarkan beberapa tahun silam juga mengundang pendapat pro dan kontra yang mengimbas langsung ke masyarakat.

Di Kabupaten Mimika, belum lama berselang terjadi pula perseteruan antarwarga (di luar Papua, kabar yang santer terdengar adalah perang suku), padahal faktanya tidak seperti itu. Perseteruan antarwarga ini pun akhirnya tidak berlanjut setelah diselesaikan secara adat lewat upacara bakar batu.

Pada prinsipnya masyarakat Papua yang terdiri dari banyak suku itu adalah cinta damai. Hal itu jelas terlihat dari kebiasaan hidup mereka yang sangat peduli terhadap ekosistem lingkungan di sana.

Namun, fakta tidak bisa dimungkiri bahwa sejak Irian Jaya (dulu) berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1 Mei 1963, hingga saat ini setidaknya ada empat permasalahan dalam pembangunan yang tidak dapat ditanggulangi dengan baik, yaitu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan/keterpurukan, dan kesehatan yang buruk (4K).

Kita tidak bisa pula menutup mata bahwa jika ada peristiwa tertentu terjadi di Papua, penyelesaiannya selalu dengan keputusan politik. Adanya UU Otonomi Khusus Papua adalah salah satu di antaranya. Dalam UU itu antara lain diatur soal pembagian pendapatan dari pertambangan minyak antara pemerintah daerah dan pusat yang perbandingannya 70%:30%.

Dengan kesepakatan 70:30 itu, pemerintah pusat diwajibkan memberikan kompensasi kepada Papua, selain penerimaan dari hasil pajak maupun sumber daya alam seperti kehutanan, perikanan, dan pertambangan.

Pemerintah pusat juga wajib mengalokasikan dana alokasi khusus untuk pendidikan dan kesehatan sebesar 2% dari dana alokasi umum nasional. Ketentuan ini berlaku selama 20 tahun sejak UU Papua diundangkan.

UU Otonomi Khusus Papua ini secara keseluruhan memuat tak kurang dari 78 pasal. Intinya adalah, selain penambahan pendapatan daerah, juga memberi keleluasaan bagi rakyat Papua untuk membentuk Majelis Rakyat Papua sebagai Dewan Pertimbangan Hak-hak Khusus Rakyat Papua, pembentukan komisi kebenaran dan rekonsiliasi, dan Komnas HAM.

Namun di luar persoalan-persoalan politik seperti di atas, Papua menyimpan banyak pesona atau keindahan yang boleh dibilang tidak ada duanya di Indonesia. Papua masih banyak menyimpan kekayaan alam nan alami, budaya, dan lain-lain yang boleh jadi bakal mampu menjadi jendelanya Indonesia jika kita punya komitmen mengelolanya. Potensi wisatanya juga sangat luar biasa. Persoalannya sekarang, siapa yang harus menyentuhnya lebih dulu.

Dilatarbelakangi fakta-fakta seperti itulah, Media Indonesia bersama Tim Ekspedisi dari Metro-TV awal bulan ini melakukan ekspedisi ke bumi ujung timur Indonesia tersebut. Tim yang beranggotakan enam orang itu tidak tanggung-tanggung sempat pula naik ke kawasan puncak Gunung Jayawijaya hingga ke wilayah yang kandungan oksigennya sangat tipis.

“Baru sekarang ini kami melakukan liputan yang medannya mahaberat, tapi sangat mengasyikkan, karena kami dapat melihat pemandangan yang indah menakjubkan,” kata wartawan Media Mirza Andreas yang laporannya dari sana dapat disimak di tabloid ini.

Kekaguman serupa juga diungkapkan Tim Ekspedisi Metro TV. “Bumi Papua memang luar biasa. Baru kali ini kami mendapat objek ekspedisi yang betul-betul menantang untuk kami jelajahi,” ujar salah seorang anggota tim saat menyiapkan tayangan Ekspedisi Pesona Papua.

Persisnya seperti apa, silakan Anda simak laporan soal itu dalam acara Ekspedisi di Metro TV yang ditayangkan malam ini. Untuk melengkapi informasi tentang daya pesona Papua tersebut, silakan pula baca lembar demi lembar tabloid ini. Papua memang memesona.(

PERANG ADAT TANPA DARAH

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum
Papua, JIKA berbicara soal perang antarsuku, sering kali orang langsung mengalamatkannya ke suku-suku yang ada di Papua. Di sejumlah daerah Pegunungan Tengah, perang suku yang disebut perang adat memang masih sering terjadi hingga saat ini. Tidak jarang, perang menghasilkan korban jiwa dan dendam yang terus terpelihara.

Pemerintah dan pihak keamanan pun sering dibuat pusing dengan perang ini. Di satu sisi hukum dan keamanan harus ditegakkan, namun di sisi lain mereka justru dihadapkan pada kenyataan budaya bahwa perang itu bagian dari adat istiadat mereka yang harus dihormati.

Namun bagi masyarakat suku Amungme yang tinggal di Opitawak, Desa Banti, yang tinggal di wilayah Pegunungan Tengah Jayawijaya, perang suku tidak lagi dilakukan untuk saling membunuh. Perang suku kini dilakukan untuk melestarikan budaya nenek moyang mereka.

Sebagai bagian dari ritual adat yang terus mereka lakukan, masyarakat Amungme justru menunggu-nunggu upacara ritual perang suku. Pasalnya, sang kepala suku justru telah menyiapkan pesta ‘Bakar Batu’ dengan puluhan babi yang siap disantap seusai ritual perang.

Kini tidak ada lagi kematian dari perang antarsuku yang dilakukan oleh suku Amungme. Masyarakat justru semakin mendapatkan arti dari hidup bersama dengan berbagai perbedaan yang dimiliki oleh masyarakat lain.

Kesuburan dan kesejahteraan

Kini perang hanya diperagakan sesuai aslinya tanpa melepaskan panah ke tubuh lawan.

Mengapa mereka tetap melestarikan perang suku meski hanya dilakukan sebatas upacara ritual saja? Bagi mereka, perang itu sendiri bermakna kesuburan dan kesejahteraan. Jika tidak ada perang, ternak babi dan hasil pertanian tidak dapat berkembang.

Selain itu, tanpa perang, kebesaran nama suku tidak akan dipandang oleh suku-suku lainnya. Mereka akan dianggap lemah dan tidak memiliki harga diri di mata suku lain.

Sungguh beruntung, tim mendapat kesempatan untuk menyaksikan upacara perang antarsuku yang dipimpin oleh Kepala Suku Yunus Omabak. Mereka tetap menampilkan keaslian perang. Wajah para pria yang turun ke medan perang tetap beringas, penuh dengan coreng-moreng warna putih di wajah dan sekujur tubuh. Tidak lupa, parang, busur dan anak panah, serta tombak, tergenggam erat di tangan mereka.

Para laki-laki ada yang masih menggunakan koteka. Namun kebanyakan sudah mengenakan celana. Dedaunan mereka lilitkan di pangkal lengan dan kaki. Tidak lupa mereka memakai semacam mahkota di kepala yang terbuat dari bulu-bulu binatang sebagai perhiasan turun-temurun yang dikenakan saat berperang.

Usai menyiapkan diri, kepala suku membagi para laki-laki itu dalam dua kelompok, masing-masing beranggotakan sekitar 20 orang. Mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak pemisah sekitar seratus meter. Mereka pun berancang-ancang untuk berperang di tengah tebalnya kabut pegunungan.

‘Perang’ pun dimulai. Namun, mereka tidak melepaskan satu pun anak panah. Busur beserta anak panah hanya mereka acung-acungkan ke pihak lawan. Sesekali mereka menggoda para penonton dengan mengacungkan panah ke arah penonton yang kebanyakan kaum perempuan.

Para ‘prajurit perang’ itu berlari ke sana kemari untuk mendekati dan mengunci lawan. Begitu lawan sudah terjebak karena kehabisan langkah, anak panah pun diacungkan tanpa mereka lepaskan. Teriakan “Hu…Hu…Hu” menjadi penyemangat dan semakin memanaskan suasana.

Para penonton pun kian terhibur. Mereka tertawa-tawa, misalnya saat melihat ada ‘prajurit’ yang jatuh terjengkang karena kakinya tersangkut oleh kaki kawannya sendiri. Meskipun ikut terhibur, tim menonton aksi tersebut sambil ketakutan. Bagaimana tidak, meski hanya perang yang direkayasa, parang dan tombak yang bermata tajam dan mengkilap berseliweran di antara tubuh-tubuh mereka.

Akhirnya kepala suku menyuruh mereka berhenti berperang. Masing-masing komandan perang dari dua kelompok dipanggil untuk berdamai. Para komandan pun menyetujuinya. Sebagai tanda diakhirinya perang antarsuku, mereka saling bertukaran kulit siput yang mereka namakan ‘Bia’.

Mereka pun berangkulan sambil mengunyah pinang bersama. Kemudian mereka menyanyikan lagu-lagu adat, simbol kebesaran dan kehormatan suku melalui perang itu. Tanpa darah dan korban jiwa, perang berakhir dengan kebahagiaan. Daging babi yang masih hangat pun menanti untuk disantap beramai-ramai.

                                                                               

                                                       AXL/SK

TENTANG KEHIDUPAN TIGA DESA TEMBAGAPURA

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum
Papua, SEPERTI sebagian besar masyarakat gunung lainnya, masyarakat Banti tinggal di bagian tengah dari gugusan Pegunungan Jayawijaya. Gugusan pegunungan yang melintang dari utara hingga ke selatan Pulau Papua, bagian tengahnya didiami oleh suku-suku Dani, Damal, Delem, Nduga, Kupel, Ngalum, Moni, Ekagi, dan Amungme sendiri.Tidak jauh dari jembatan gantung, terdapat pasar yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Sekumpulan orang bergerombol di beberapa tempat sambil transaksi tawar-menawar harga.Namun jenis barang-barang yang dijual masih sangat terbatas, seperti umbi-umbian yang menjadi makanan pokok mereka, sayuran, minyak goreng, dan alat jahit. Dalam bertransaksi jual-beli, mereka sudah tidak lagi menggunakan sistem barter. Mata uang rupiah sudah menjadi alat pembayaran di antara mereka. Budaya barter sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat Amungme yang hidupnya berdekatan dengan budaya kota seperti di Desa Banti. Ini berbeda dengan masyarakat Amungme yang masih tinggal di pedalaman pegunungan. Mereka masih menggunakan alat tukar eral dalam bertransaksi dagang. Eral adalah sistem tukar-menukar barang dan menjadi alat tukar yang sah bagi masyarakat Amungme pedalaman. Eral berupa kulit siput (mereka menyebutnya ‘Bia’), yang didapat dari hasil pertukaran barang dengan masyarakat yang tinggal di pantai. Setelah kulit Bia didapat, mereka membawa ke tempat tinggalnya di pegunungan untuk dijadikan alat tukar yang sah. Secara garis besar, masyarakat Desa Banti bermata pencaharian bertani, bercocok tanam, beternak, dan berburu. Hasil bercocok tanam seperti sayuran, labu, umbi-umbian (singkong, talas, dan ubi), mereka jual di pasar Tembagapura. Koteka (alat penutup alat kelamin pria), sudah jarang digunakan. Hanya satu-dua orang laki-laki saja, itu pun sudah berusia lanjut, yang terlihat memakai alat yang terbuat dari buah labu yang dikeringkan itu. Para kaum perempuan pun sudah sedikit sekali yang bertelanjang dada. Kalaupun tidak menggunakan bra, sebagian besar para kaum perempuan sudah mengenakan baju untuk menutupi daerah sensitifnya itu. Kondisi ini berbeda dengan masyarakat pedalaman lainnya yang hanya menutupi alat kelaminnya saja.                                                   aXL SK

SEJARAH KABUPATEN MIMIKA

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum

SETIAP daerah memiliki sejarah. Sejarah Kabupaten Mimika sebagai daerah terkaya di Papua bermula dari sebuah pegunungan. Di balik bayangan pegunungan kapur setinggi lebih dari seribu meter di atas hutan tropis Papua, di utara Kecamatan Tembagapura, tersembunyi kekayaan mineral yang diperkirakan bernilai lebih dari 77 miliar dollar AS. GUNUNG tembaga dan emas ini, Ertsberg, berdiri lebih dari tiga juta tahun dikelilingi jurang- jurang dalam yang terbentuk oleh gerusan es abadi yang mencair dan membeku sebagai pengaruh perubahan musim. Potensi tambang yang luar biasa areal pegunungan itu diungkap geolog Belanda, Jean Jacques Dozy, pada tahun 1936. Penemuan ditindaklanjuti Manajer Eksplorasi Freeport Sulphur Company (sekarang Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc-induk PT Freeport Indonesia) pada tahun 1967 setelah penandatanganan kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia. Setelah kandungan tembaga di tambang Ertsberg menipis, tahun 1988 ditemukan lokasi penambangan baru di Grasberg tak jauh dari Ertsberg. Tambang kedua ini memiliki cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia. Produksi tambang dikirim ke pabrik-pabrik peleburan tembaga di berbagai negara, termasuk Gresik-Indonesia. Tahun 2002, PT FI menghasilkan konsentrat yang mengandung 1,8 miliar pon tembaga dan 2,9 juta ons emas dari penambangan sekitar 235.000 bijih tambang per hari. Konsentrat tembaga ini bermanfaat bagi penyediaan tembaga untuk perangkat komunikasi modern dan barang elektronik, pengadaan listrik dan keperluan industri lainnya. Masuknya perusahaan bermodal asing pertama di Indonesia membuka keterisolasian daerah yang dikelilingi hutan, perairan, dan pegunungan ini. Infrastruktur terbangun dengan keberadaan kota modern, lapangan terbang, pelabuhan laut, dan fasilitas jalan. Lapangan kerja pun cukup terbuka meski tidak seratus persen menyerap penduduk lokal. Ibarat magnet, penambangan PT FI menarik banyak pekerja yang melibatkan diri langsung kepada operasional penambangan ataupun usaha-usaha lain yang berkaitan dengan pertambangan. PT FI sebagai perusahaan tambang terbesar di Papua mempekerjakan sekitar 7.600 karyawan. Dari jumlah tersebut, 26 persen merupakan penduduk lokal Papua. Kondisi sumber daya manusia Papua yang kurang memiliki keterampilan dan pendidikan untuk bekerja menggunakan teknologi modern menjadi kendalanya. Perusahaan-perusahaan pendukung kegiatan pertambangan bermunculan. Misalnya, perusahaan yang menyediakan kebutuhan listrik, jasa pelabuhan, jasa konstruksi, jasa konsultan, katering dan makanan. Di luar karyawan PT FI, terdapat sekitar 1.500 pekerja kontrak pada perusahaan-perusahaan yang khusus menyediakan jasa- jasa bagi PT FI. Aktivitas ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja yang kian berkembang menyebabkan arus migrasi menjadi besar. Banyak pendatang dari luar Papua, seperti dari Jawa dan Sulawesi, yang mengadu untung mengisi kebutuhan tenaga kerja. Mereka yang tidak berhasil memasuki sektor formal yang mensyaratkan keterampilan dan pengetahuan yang memadai memasuki sektor nonformal, seperti menjadi tukang ojek. Bila kehadiran perusahaan- perusahaan itu belum mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, sebenarnya ada peluang bagi penduduk lokal berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan. Peluang itu terkait dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari karyawan PT FI dan perusahaan lain. Sayangnya, bidang ini belum dikembangkan penduduk lokal. Peluang boleh dikatakan cukup besar. Sebagai gambaran, peredaran uang di Mimika tahun 2002 tercatat Rp 600 miliar. Pengeluaran untuk konsumsi PT FI, satu miliar per hari. Namun, hasil-hasil pertanian dari Mimika atau daerah lain di Papua, seperti Jayawijaya dan Jayapura, belum mampu menutupi kebutuhan pokok PT FI. Kebutuhan konsumsi warga PT FI hampir semuanya (sekitar 80 persen) dipenuhi melalui kiriman barang dari Surabaya dan Makassar sehingga tak heran bila harga-harga kebutuhan pokok di Mimika jadi tinggi. Lapangan usaha penambangan di Mimika membuat pendapatan per kapita penduduknya tahun 2002 sebesar Rp 106,7 juta. Meski tergolong tinggi, jumlah ini menurun daripada tahun sebelumnya. Tahun 2001 malah mencapai Rp 150,8 juta. Seluruh lapangan pekerjaan yang digerakkan penduduk lokal maupun pendatang menghasilkan perputaran uang Rp 11,8 triliun tahun 2002. Dari jumlah tersebut, 96,6 persen atau Rp 11,3 triliun dihasilkan dari sektor pertambangan. Ini tidak saja membuat pendapatan per kapita Kabupaten Mimika menjadi tinggi, namun juga memberi kontribusi besar terhadap penerimaan daerah. Tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Mimika menerima Rp 108,37 miliar dari PT FI melalui pajak, retribusi atau bagi hasil. Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya, Rp 113,94 miliar. Bila mengeluarkan sektor pertambangan dari penghitungan, total perekonomian tahun 2002 senilai Rp 410 miliar. Dari nilai tersebut, pendapatan per kapita Rp 3,7 juta. Lapangan usaha yang ditekuni penduduk adalah pertanian, khususnya hasil-hasil hutan dan tanaman pangan. Kegiatan sektor perhubungan, komunikasi, dan bangunan yang ikut terdongkrak memiliki nilai ekonomi tinggi selama PT FI dan perusahaan pendukung masih beroperasi. Kekuatan perekonomian Mimika sampai saat ini dan tahun- tahun mendatang sepenuhnya bergantung pada pertambangan. Setidaknya, sampai berakhirnya kontrak karya kedua antara PT FI dan Pemerintah Indonesia tahun 2021, cadangan bijih tambang Grasberg 2,6 miliar ton di areal 202.950 hektar sanggup menggerakkan perekonomian daerah. Kekayaan inilah yang menjadi alasan Mimika memisahkan diri dari Kabupaten Fak-fak tahun 1999.      

                                                        Axl sk

SEJARAH KABUPATEN MIMIKA

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum

SETIAP daerah memiliki sejarah. Sejarah Kabupaten Mimika sebagai daerah terkaya di Papua bermula dari sebuah pegunungan. Di balik bayangan pegunungan kapur setinggi lebih dari seribu meter di atas hutan tropis Papua, di utara Kecamatan Tembagapura, tersembunyi kekayaan mineral yang diperkirakan bernilai lebih dari 77 miliar dollar AS. GUNUNG tembaga dan emas ini, Ertsberg, berdiri lebih dari tiga juta tahun dikelilingi jurang- jurang dalam yang terbentuk oleh gerusan es abadi yang mencair dan membeku sebagai pengaruh perubahan musim. Potensi tambang yang luar biasa areal pegunungan itu diungkap geolog Belanda, Jean Jacques Dozy, pada tahun 1936. Penemuan ditindaklanjuti Manajer Eksplorasi Freeport Sulphur Company (sekarang Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc-induk PT Freeport Indonesia) pada tahun 1967 setelah penandatanganan kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia. Setelah kandungan tembaga di tambang Ertsberg menipis, tahun 1988 ditemukan lokasi penambangan baru di Grasberg tak jauh dari Ertsberg. Tambang kedua ini memiliki cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia. Produksi tambang dikirim ke pabrik-pabrik peleburan tembaga di berbagai negara, termasuk Gresik-Indonesia. Tahun 2002, PT FI menghasilkan konsentrat yang mengandung 1,8 miliar pon tembaga dan 2,9 juta ons emas dari penambangan sekitar 235.000 bijih tambang per hari. Konsentrat tembaga ini bermanfaat bagi penyediaan tembaga untuk perangkat komunikasi modern dan barang elektronik, pengadaan listrik dan keperluan industri lainnya. Masuknya perusahaan bermodal asing pertama di Indonesia membuka keterisolasian daerah yang dikelilingi hutan, perairan, dan pegunungan ini. Infrastruktur terbangun dengan keberadaan kota modern, lapangan terbang, pelabuhan laut, dan fasilitas jalan. Lapangan kerja pun cukup terbuka meski tidak seratus persen menyerap penduduk lokal. Ibarat magnet, penambangan PT FI menarik banyak pekerja yang melibatkan diri langsung kepada operasional penambangan ataupun usaha-usaha lain yang berkaitan dengan pertambangan. PT FI sebagai perusahaan tambang terbesar di Papua mempekerjakan sekitar 7.600 karyawan. Dari jumlah tersebut, 26 persen merupakan penduduk lokal Papua. Kondisi sumber daya manusia Papua yang kurang memiliki keterampilan dan pendidikan untuk bekerja menggunakan teknologi modern menjadi kendalanya. Perusahaan-perusahaan pendukung kegiatan pertambangan bermunculan. Misalnya, perusahaan yang menyediakan kebutuhan listrik, jasa pelabuhan, jasa konstruksi, jasa konsultan, katering dan makanan. Di luar karyawan PT FI, terdapat sekitar 1.500 pekerja kontrak pada perusahaan-perusahaan yang khusus menyediakan jasa- jasa bagi PT FI. Aktivitas ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja yang kian berkembang menyebabkan arus migrasi menjadi besar. Banyak pendatang dari luar Papua, seperti dari Jawa dan Sulawesi, yang mengadu untung mengisi kebutuhan tenaga kerja. Mereka yang tidak berhasil memasuki sektor formal yang mensyaratkan keterampilan dan pengetahuan yang memadai memasuki sektor nonformal, seperti menjadi tukang ojek. Bila kehadiran perusahaan- perusahaan itu belum mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, sebenarnya ada peluang bagi penduduk lokal berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan. Peluang itu terkait dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari karyawan PT FI dan perusahaan lain. Sayangnya, bidang ini belum dikembangkan penduduk lokal. Peluang boleh dikatakan cukup besar. Sebagai gambaran, peredaran uang di Mimika tahun 2002 tercatat Rp 600 miliar. Pengeluaran untuk konsumsi PT FI, satu miliar per hari. Namun, hasil-hasil pertanian dari Mimika atau daerah lain di Papua, seperti Jayawijaya dan Jayapura, belum mampu menutupi kebutuhan pokok PT FI. Kebutuhan konsumsi warga PT FI hampir semuanya (sekitar 80 persen) dipenuhi melalui kiriman barang dari Surabaya dan Makassar sehingga tak heran bila harga-harga kebutuhan pokok di Mimika jadi tinggi. Lapangan usaha penambangan di Mimika membuat pendapatan per kapita penduduknya tahun 2002 sebesar Rp 106,7 juta. Meski tergolong tinggi, jumlah ini menurun daripada tahun sebelumnya. Tahun 2001 malah mencapai Rp 150,8 juta. Seluruh lapangan pekerjaan yang digerakkan penduduk lokal maupun pendatang menghasilkan perputaran uang Rp 11,8 triliun tahun 2002. Dari jumlah tersebut, 96,6 persen atau Rp 11,3 triliun dihasilkan dari sektor pertambangan. Ini tidak saja membuat pendapatan per kapita Kabupaten Mimika menjadi tinggi, namun juga memberi kontribusi besar terhadap penerimaan daerah. Tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Mimika menerima Rp 108,37 miliar dari PT FI melalui pajak, retribusi atau bagi hasil. Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya, Rp 113,94 miliar. Bila mengeluarkan sektor pertambangan dari penghitungan, total perekonomian tahun 2002 senilai Rp 410 miliar. Dari nilai tersebut, pendapatan per kapita Rp 3,7 juta. Lapangan usaha yang ditekuni penduduk adalah pertanian, khususnya hasil-hasil hutan dan tanaman pangan. Kegiatan sektor perhubungan, komunikasi, dan bangunan yang ikut terdongkrak memiliki nilai ekonomi tinggi selama PT FI dan perusahaan pendukung masih beroperasi. Kekuatan perekonomian Mimika sampai saat ini dan tahun- tahun mendatang sepenuhnya bergantung pada pertambangan. Setidaknya, sampai berakhirnya kontrak karya kedua antara PT FI dan Pemerintah Indonesia tahun 2021, cadangan bijih tambang Grasberg 2,6 miliar ton di areal 202.950 hektar sanggup menggerakkan perekonomian daerah. Kekayaan inilah yang menjadi alasan Mimika memisahkan diri dari Kabupaten Fak-fak tahun 1999.                                                              Axl sk

TENTANG TIGA DESA

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum
Papua, SEPERTI sebagian besar masyarakat gunung lainnya, masyarakat Banti tinggal di bagian tengah dari gugusan Pegunungan Jayawijaya. Gugusan pegunungan yang melintang dari utara hingga ke selatan Pulau Papua, bagian tengahnya didiami oleh suku-suku Dani, Damal, Delem, Nduga, Kupel, Ngalum, Moni, Ekagi, dan Amungme sendiri.Tidak jauh dari jembatan gantung, terdapat pasar yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Sekumpulan orang bergerombol di beberapa tempat sambil transaksi tawar-menawar harga.

Namun jenis barang-barang yang dijual masih sangat terbatas, seperti umbi-umbian yang menjadi makanan pokok mereka, sayuran, minyak goreng, dan alat jahit.

Dalam bertransaksi jual-beli, mereka sudah tidak lagi menggunakan sistem barter. Mata uang rupiah sudah menjadi alat pembayaran di antara mereka. Budaya barter sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat Amungme yang hidupnya berdekatan dengan budaya kota seperti di Desa Banti.

Ini berbeda dengan masyarakat Amungme yang masih tinggal di pedalaman pegunungan. Mereka masih menggunakan alat tukar eral dalam bertransaksi dagang. Eral adalah sistem tukar-menukar barang dan menjadi alat tukar yang sah bagi masyarakat Amungme pedalaman.

Eral berupa kulit siput (mereka menyebutnya ‘Bia’), yang didapat dari hasil pertukaran barang dengan masyarakat yang tinggal di pantai.

Setelah kulit Bia didapat, mereka membawa ke tempat tinggalnya di pegunungan untuk dijadikan alat tukar yang sah.

Secara garis besar, masyarakat Desa Banti bermata pencaharian bertani, bercocok tanam, beternak, dan berburu. Hasil bercocok tanam seperti sayuran, labu, umbi-umbian (singkong, talas, dan ubi), mereka jual di pasar Tembagapura.

Koteka (alat penutup alat kelamin pria), sudah jarang digunakan. Hanya satu-dua orang laki-laki saja, itu pun sudah berusia lanjut, yang terlihat memakai alat yang terbuat dari buah labu yang dikeringkan itu.

Para kaum perempuan pun sudah sedikit sekali yang bertelanjang dada. Kalaupun tidak menggunakan bra, sebagian besar para kaum perempuan sudah mengenakan baju untuk menutupi daerah sensitifnya itu. Kondisi ini berbeda dengan masyarakat pedalaman lainnya yang hanya menutupi alat kelaminnya saja.(Msc/S-5)

SEJARAH KABUPATEN MIMIKA

Author: alex beanal  //  Category: Pembicaraan Umum

SETIAP daerah memiliki sejarah. Sejarah Kabupaten Mimika sebagai daerah terkaya di Papua bermula dari sebuah pegunungan. Di balik bayangan pegunungan kapur setinggi lebih dari seribu meter di atas hutan tropis Papua, di utara Kecamatan Tembagapura, tersembunyi kekayaan mineral yang diperkirakan bernilai lebih dari 77 miliar dollar AS.

GUNUNG tembaga dan emas ini, Ertsberg, berdiri lebih dari tiga juta tahun dikelilingi jurang- jurang dalam yang terbentuk oleh gerusan es abadi yang mencair dan membeku sebagai pengaruh perubahan musim. Potensi tambang yang luar biasa areal pegunungan itu diungkap geolog Belanda, Jean Jacques Dozy, pada tahun 1936.

Penemuan ditindaklanjuti Manajer Eksplorasi Freeport Sulphur Company (sekarang Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc-induk PT Freeport Indonesia) pada tahun 1967 setelah penandatanganan kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia.

Setelah kandungan tembaga di tambang Ertsberg menipis, tahun 1988 ditemukan lokasi penambangan baru di Grasberg tak jauh dari Ertsberg. Tambang kedua ini memiliki cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia.

Produksi tambang dikirim ke pabrik-pabrik peleburan tembaga di berbagai negara, termasuk Gresik-Indonesia. Tahun 2002, PT FI menghasilkan konsentrat yang mengandung 1,8 miliar pon tembaga dan 2,9 juta ons emas dari penambangan sekitar 235.000 bijih tambang per hari. Konsentrat tembaga ini bermanfaat bagi penyediaan tembaga untuk perangkat komunikasi modern dan barang elektronik, pengadaan listrik dan keperluan industri lainnya.

Masuknya perusahaan bermodal asing pertama di Indonesia membuka keterisolasian daerah yang dikelilingi hutan, perairan, dan pegunungan ini. Infrastruktur terbangun dengan keberadaan kota modern, lapangan terbang, pelabuhan laut, dan fasilitas jalan. Lapangan kerja pun cukup terbuka meski tidak seratus persen menyerap penduduk lokal.

Ibarat magnet, penambangan PT FI menarik banyak pekerja yang melibatkan diri langsung kepada operasional penambangan ataupun usaha-usaha lain yang berkaitan dengan pertambangan. PT FI sebagai perusahaan tambang terbesar di Papua mempekerjakan sekitar 7.600 karyawan. Dari jumlah tersebut, 26 persen merupakan penduduk lokal Papua. Kondisi sumber daya manusia Papua yang kurang memiliki keterampilan dan pendidikan untuk bekerja menggunakan teknologi modern menjadi kendalanya.

Perusahaan-perusahaan pendukung kegiatan pertambangan bermunculan. Misalnya, perusahaan yang menyediakan kebutuhan listrik, jasa pelabuhan, jasa konstruksi, jasa konsultan, katering dan makanan. Di luar karyawan PT FI, terdapat sekitar 1.500 pekerja kontrak pada perusahaan-perusahaan yang khusus menyediakan jasa- jasa bagi PT FI.

Aktivitas ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja yang kian berkembang menyebabkan arus migrasi menjadi besar. Banyak pendatang dari luar Papua, seperti dari Jawa dan Sulawesi, yang mengadu untung mengisi kebutuhan tenaga kerja. Mereka yang tidak berhasil memasuki sektor formal yang mensyaratkan keterampilan dan pengetahuan yang memadai memasuki sektor nonformal, seperti menjadi tukang ojek.

Bila kehadiran perusahaan- perusahaan itu belum mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, sebenarnya ada peluang bagi penduduk lokal berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan. Peluang itu terkait dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari karyawan PT FI dan perusahaan lain. Sayangnya, bidang ini belum dikembangkan penduduk lokal.

Peluang boleh dikatakan cukup besar. Sebagai gambaran, peredaran uang di Mimika tahun 2002 tercatat Rp 600 miliar. Pengeluaran untuk konsumsi PT FI, satu miliar per hari. Namun, hasil-hasil pertanian dari Mimika atau daerah lain di Papua, seperti Jayawijaya dan Jayapura, belum mampu menutupi kebutuhan pokok PT FI.

Kebutuhan konsumsi warga PT FI hampir semuanya (sekitar 80 persen) dipenuhi melalui kiriman barang dari Surabaya dan Makassar sehingga tak heran bila harga-harga kebutuhan pokok di Mimika jadi tinggi.

Lapangan usaha penambangan di Mimika membuat pendapatan per kapita penduduknya tahun 2002 sebesar Rp 106,7 juta. Meski tergolong tinggi, jumlah ini menurun daripada tahun sebelumnya. Tahun 2001 malah mencapai Rp 150,8 juta.

Seluruh lapangan pekerjaan yang digerakkan penduduk lokal maupun pendatang menghasilkan perputaran uang Rp 11,8 triliun tahun 2002. Dari jumlah tersebut, 96,6 persen atau Rp 11,3 triliun dihasilkan dari sektor pertambangan. Ini tidak saja membuat pendapatan per kapita Kabupaten Mimika menjadi tinggi, namun juga memberi kontribusi besar terhadap penerimaan daerah.

Tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Mimika menerima Rp 108,37 miliar dari PT FI melalui pajak, retribusi atau bagi hasil. Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya, Rp 113,94 miliar.

Bila mengeluarkan sektor pertambangan dari penghitungan, total perekonomian tahun 2002 senilai Rp 410 miliar. Dari nilai tersebut, pendapatan per kapita Rp 3,7 juta. Lapangan usaha yang ditekuni penduduk adalah pertanian, khususnya hasil-hasil hutan dan tanaman pangan. Kegiatan sektor perhubungan, komunikasi, dan bangunan yang ikut terdongkrak memiliki nilai ekonomi tinggi selama PT FI dan perusahaan pendukung masih beroperasi.

Kekuatan perekonomian Mimika sampai saat ini dan tahun- tahun mendatang sepenuhnya bergantung pada pertambangan. Setidaknya, sampai berakhirnya kontrak karya kedua antara PT FI dan Pemerintah Indonesia tahun 2021, cadangan bijih tambang Grasberg 2,6 miliar ton di areal 202.950 hektar sanggup menggerakkan perekonomian daerah. Kekayaan inilah yang menjadi alasan Mimika memisahkan diri dari Kabupaten Fak-fak tahun 1999.

                                                             Axl sk