27
Feb
PEMBERITAHUAN – (Kriteria Anggota)
Author: nalio jangkup // Category: Pembicaraan Umum, Pengumuman, UncategorizedKami badan pengurus pusat memberitahukan kepada seluruh anggota IPMAMI se-Jawa Bali, bahwa untuk menjadi anggota IPMAMI harus memenui syrat-syarat sebagai berikut:
1. Anak-anak asli Timika
2. Lahir besar Timika
3. Orang tuanya sudah lama mengabdi di Timika
4. Sudah pernah sekolah di Timika
5. Benar-benar punya hati untuk membangun Timika
6. Berdomisi di se-Jawa Bali
mengetahui
Ketua IPMAMI se-Jawa Bali
Nalio Jangkup
Tags: kriteria anggota ipmami
February 29th, 2008 at 1:44 pm
salam teman2 semua kami disini bilang aja bawah kamo orang timika saya orang timika dan ramaih dengan istilah aibon sekarang lah teman 2 butihkan kamo orang timika.
March 2nd, 2008 at 2:11 pm
TIMIKA – Terhitung sejak Desember 2006 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Mimika mencapai 1210 kasus, namun per 31 Maret 2007, angka itu meningkat dan telah tembus 1300 kasus. Demikian diungkapkan Kepala Subdin Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2M dan PL), Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Mimika, Saiful Taqim, SKM kepada Radar Timika (group Cenderawasih Pos) di ruang kerjanya, Kamis (19/4).” Menurut kumulatif kasus menurut pekerjaan masih yang tertinggi adalah ibu rumah tangga memcapai 285 kasus, menyusul petani 225 kasus dan PSK Lokalisasi182 kasus,” ujarnya.Menurutnya, data terbaru 1300 kasus HIV/AIDS tersebut sudah merupakan angka final, dan akurat, langsung dari KPAD Mimika yang terkafer dari sejumlah VCT baik yang berada dalam kota Timika dan VCT Tembagapura.”Dan dengan meningkatnya kasus HIV/AIDS dalam tiga bulan terakhir ini disebabkan dibukanya Klinik Voulentary Couseling Testing (VCT) Tembagapura). Di sana petugas kesehatan menemukan kasus HIV/AIDS yang cukup meningkat dibandingkan dengan sebelumnya,” ungkap Saiful.Dijelaskan, penderita HIV/AIDS yang sudah meninggal dunia terhitung dari tahun 1996-31 Maret 2007 sebanyak 85 kasus. Dari jumlah 1300 kasus, pengidap HIV sebanyak 1130 kasus dan AIDS sebanyak 170 kasus. Sedangkan jumlah HIV/AIDS untuk tujuh suku di Mimika terhitung dari 1996-Maret 2007 sebanyak 820 kasus, non tujuh suku 86 kasus, pendatang 263 kasus dan tidak diketahui 131 kasus.Menurut jenis kelamin, laki-laki 645 kasus dan perempuan 648 kasus dan tidak diketahui 7 kasus. “Resiko tertingg heteroseks 1.204 kasus, neonatus 28 kasus, transfuse darah 1 kasus, paparan 4 kasus dan tidak diketahui 62 kasus,” terangnya.Menurut kelompok umur, dibawah 18 bulan sebnyak 18 kasus, 18-14 tahun 25 kasus, 15-39 tahun 1049 kasus, 40-54 tahun 91 kasus, diatas 55 tahun 11 tahun dan tidak diketahui 106 kasus.Yang terserang TBC-HIV diantaranya TB-HIV = 147 kasus, TBC-HIV = 126 kasus dan tidak diketahui 1.027 kasus. Sedangkan kasus HIV/AIDS menurut distrik antara lain, Distrik Mimika Timur 397 kasus, Kelurahan Harapan 266 kasus, Mimika Timur 196 kasus, Mimika Barat 2 kasus, Tembagapura 79 kasus, Jila 2 kasus, tidak diketahui 197 kasus, Kuala Kencana 152 kasus, lain-lain 5 kasus, Mimika Timur Tengah 1 kasus dan Mimika Timur Jauh 3 kasus.
March 4th, 2008 at 11:24 am
Terimakasih sdr N”khan, atas Info tentang kasus Penyakit Masyarakat yang terjadi di Kab. Mimika, semoga dengan adanya Info semacam ini menjaga diri kita sendiri dan memberikan penyuluhan kepada sdr2 kita yang ada di Kab. Mimika.
salam
Uau. Angga
March 5th, 2008 at 5:28 am
ade ketua pertanyaan no 4-5 ini harus menjelaskan yangan sampai kasus yang terjadi di yogyasolo
April 15th, 2008 at 12:31 pm
nimao..saudara’qu
Trimakasih karena telah mengingatkan saya dengan istilah Aibon,..sekarang saya katakan saya orang timika dan saya sangat sayang timika, dan tanggung jawab saya dan teman-teman s’mua adalah belajar n terus belajar !!bila saatnya tiba, kita semua akan pulang dan membangun mimika dengan apa yang sudah kita dapat ditempat pendidikan kita masing-masing…salah satunya menghilangkan istilah aibon ditimika tercinta dan juga membangun dan membantu saudara-saudara kita yang tidak mampu dalam SDM. sekarang kita cuma bisa bicara, tapi mari kita sama-sama membangun diri kita masing-masing,baru kita bersama – sama membangun mimika…AmOlongo..NimAo
Salam ‘Manis
Yenni
G B U….All
April 29th, 2008 at 2:25 pm
kaloo mau kurang penderita HIV nya ditimika tolong ditutup itu kilo 10, gimana mau kurang klo sarangnya nyadak diberantas, berantas dulu sarangnya baru nanti hivnya bisa kurang.
April 29th, 2008 at 6:48 pm
saya kira kalau mau menanggapi atau mau tahu lebih jelasnya. Kita baca AD/ART yang hasil perumusan di MUBES & REORGANISASI IPMAK di Kaliurang 13-15 September 2007.
AD/ART bukan hanya dibuat setelah itu disimpan jadi kiloan di loak atau jadi alat untuk usir nyamuk tapi untuk dibaca & diayomi oleh semua anggota IPMAMI se Jawa-Bali.
thanks so much!!!
May 7th, 2008 at 5:24 pm
ae…kaka bagus trima kasih banyak untuk INFO yang begitu penting buat kita semua.
mari kita sama-sama jaga kita punya kota tercinta.
KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI to….?!!!!
saya pikir yang harus dilakukan adalah dengan tidak bosan-bosannya memberikan penyuluhan kepada kaula muda dan orang tua kita mengenai bahanya HIV tersebut..
mungkin semua itu berawal dari individunya dulu, CHANGE your life stile…
lebih dekatkan diri pada TUHAN.
demikian…. trima kasih
nimaome….
sukses selalu ya……!!!!
_GbU_
May 28th, 2008 at 3:52 am
salam atas terpilihnya ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Timaka Bandung, semoga sukses selalu
perlu saudara saudara semua ketahuai bahwa masa depan papua adalah tanggungjawab kita swmua masrui kita semua bangun papua dengan hati yang tulus dan suci mhasiswa bandung merupakan barometer yang harus di pertahankan buat teman 2 di koowil yang lain itu saja
bravo tuk kita semua maju terus pantan mundur membela yang benar
“dengan sebuah deklarasi ” Kita Tidak akan berhenti dan lelah menyurakan aspirasi masyarkat dan kami tidak akan lenyap dlam membenarkan demokrasi yang hakiki maju terus pantang mund……… bravoo kaimana — Bandung
June 4th, 2008 at 3:16 am
Korwil IPMAMI di Bandung mengucapkan terimaksih kepada Kawan-kawan IMAKA Bandung yang dengan senang hati selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh Pelajar-Mahasiswa Timika(IPMAMI) di Bandung.
Kerjasama merupakan hal yang sangat penting dalam membina hubungan antara sesama Pelajar-mahasiswa baik antara mahasiswa Papua dengan mahasiswa Papua, maupun dengan Mahasiswa Papua dengan Mahasiswa provinsi lain. Dengan adanya kerjasama dan saling memahami antara ikatan akan menumbuhkan semangat persaudaraan. Semangat inilah yang dapat membangkitkan pentingnya kebersamaan. semoga dengan adanya dukungan dari kawan-kawan Kaimana kedepan kita dapat meembangun kerjasama yang lebih baik.
GBU…
Salam
Humas IPMAMI korwil Bandug.
Amole/Nimao
June 4th, 2008 at 4:13 am
HIV/AIDS di Timika akan terus berkembang jika pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan tidak disosialisasikan dengan baik. Bagaimana mungkiin HIV di Timika dapat berkurang sementara titik perhatian dengan tingkat prioritas utama tidak menngarah ke Pemberantasan HIV. Yang terjadi di Timika, sebenarnya belum ada perhatian yang benar-benar serius untuk memberantas HIV/AID tersebut. Bagaimana mungkin PAD MIMIKA yang besar( urutan ke 4,Menotimika.worlpress.com.,edisi 29 agustus 2007) itu tidak dialokasikan sebagian untuk Menenggulani HIV/AIDS. Tingkat penularan yang semakin meningkat 1.382 pada periode juni 2007 meningkat drastis menjadi 82 kasus dari maret 2007 yang mencapai 1.300 kasus(Sumber:www.republika.co.id & Gizi.net.)
jika Pemerintah benar-benar serius memperhatikan persoalan ini dengan pengalokasian anggaran tidak tanggung-tanggung, penyediaan fasilitas kesehatan yang benar-benar mengarah kepada pemberantasan HIV/AIDS, dan SDM yang siap untuk andil memberantas HIV/AIDS terutama Putra/putri daerah,hal tersebut sedikit demi sedikit dapat teratasi. dukungan dari seluruh warga Timika adalah sangat penting.
Masala tutup kilo 10 saya pikir belum tentu dapat menyelamatkan warga Timika dari HIV/AIDS. Yang terpenting adalah memberikan informasi yang akurat terhadap seluruh masyarakat di seluruh pelosok MIMIKA, terutama daerah-daerah terpencil mengenai cara pencegahan HIV/AIDS karena kemungkinan selama ini sosialisasi hanya berpusat di kota saja. bayangkan kalau kilo 10 di tutup dan Pelayan sex komersial dari kilo 10 yang terkena virus HIV turun ke Jalan-jalan di Timika? saya pikir itu akan lebih parah. sudah tau membedakan orang yang kena HIV dengan yang tidak? tidak bisa di bedakan to..? ya.. belom bisa di bedakan. HIV hanya dapat dhindari kalo orang yang ke kilo 10 bisa taat pada peraturan mengenai pentingnya penggunaan kondom, jadi pelayan di kilo 10 tidak perlu suruh-suruh pake kondom lagi.
Yang jelas HIV/ AIDS sekarang sudah sampai ke ke kampung-kampung. Tinggal tindakan konkrit dari kaum mudah untuk ikut serta memberantas HIV/AIDS.
Salam
Amole/Nimao
June 30th, 2008 at 5:10 pm
pendapat dari pa ketua mengena KRITERIA ANGGOTA IPMAM itu benar saya sangat setuju. mengapa demikian? karena dengan hal sekecil seperti ini maka kemajuan organisasi IPMAMI akan terlaksana. selain itu juga mengingat sudah dekatnya tahn ajaran baru, maka kepada seluruh ketua korwil2 ipmami di kota2 studi harus menjalankan program nya berdasarkan AD/ART ysng berlaku.
AMOLONGO/ NIMAO…. nagam tuongo.
YESUS berkati
July 25th, 2008 at 4:19 pm
kritik buat sdr ketua:
saya sangat sepakat dengan syarat anggota yang sdr ajukan, namun kembali saya bertanya kepada sdr kapan anda akan melakukan pendataan anggota IPMAMI se jawa bali?
saya melihat bung yang dipilih melalui proses demokrasi namun sampai sejauh ini belum ada tanda-tanda pengorganisasian secara komprehensif. bentuk organisasi kita ini sebenarnya organisasi apa? organisasi ini dibentuk hanya untuk kepentingan elit semata? karena saya melihat kawan2 banyak yang terlarut didalam dunia politik yang tentu tidak ada hasil yang cukup signifikan bagi IPMAMI….
kawan ketua segera turun ke setiap kota studi lalu minta data anggota kemudian segera sampaikan ke bupati terpilih…jangan diam di satu tempat namun kawan ketua harus bergerak… dan harus bekerja keras,,.
Terima kasih !!! Beogal…
August 4th, 2008 at 4:30 pm
amole..
sebelum’nya terima kasih atas masukan’nya kepada ketua
saya mau sampaikan bahwa kami disini lagi berusaha untuk menjalankan organisasi ini. setelah pemilihan ketua baru ipmami, kami disini juga lagi berusaha untuk mengadakan rapat kerja (raker) dan pembinaan badan pengurus ipmami yang mudah-mudahan akan diselenggarakan secepat’nya..
ini bertujuan supaya organisai kita ini bisa cepat punya program kerja bwt 2 tahun kedepan, dan supaya teman2 yang baru mengenal organisasi bisa belajar bagaimana menjalankan organisasi yg baik dan benar kedepan’nya. Untuk itu kami sangat berharap agar teman2 dapat memdantu terlaksananya raker dan pembinaan badan pengurus ini. mari kita sama2 menjalankan organisasi ini ” berbicara sangatlah mudah tapi dalam melaksanakan’nya belum tentu mudah”
Trimakasih atas perhatiannya
amole..
Rumbiak,steve
August 17th, 2008 at 7:25 am
macam trada kegiatan lgi kah ??? habis setelah “acara tawangmangu” macam su trada tanda-tanda…
pengurus masih lengkap to ??
August 21st, 2008 at 12:08 pm
Sukses selalu buat pengurus IPMAMI pusat, jangan terlalu peduli dengan kritikan orang yang melemahkan karakter anda, tapi ambilah hikmah serta yang positif dibalik semua itu…. kegiatan bisa berjalan bila terbentuk kerja sama yang baik…. terus semangat saudara-saudaraqu.Tuhan Memberkati.
September 29th, 2008 at 8:20 pm
AWAS HIV/AIDS,VIRUS BERBHAYA JANGAN DIWARISKAN KE ANAK CUCU KITA
Sesaat kalau dibaca judul tulisan ini, pasti terkesan kasar sekali, namun inilah kenyatan yang sedang terjadi kalau kita mengikuti perkembangan kasus HIV/AIDS di Timika. Mari kita cermati ulang bagaimana virus ini “berwisata” dan akhirnya menetap dalam tubuh seseorang. Kebanyakan kita hanya mengetahui bahwa virus ini menular melalui hubungan seks yang tidak aman.
Benar, namun ini hanyalah salah satu cara dari beberapa cara penularan yang lain. Hubungan seks memang menjadi “jalan tol” buat virus ini. Perlu diketahui bahwa perempuan yang sudah tertular HIV bisa sangat berpotensi untuk menularkan virus ini kepada bayinya selama masa kehamilan, selama proses persalinan dan saat menyusui. Ini sebabnya bisa disebut bahwa HIV adalah virus warisan, cukup masuk akal bukan?
Lain halnya dengan anak-anak yang tertular karena menjadi korban kekerasan seksual dari orang dewasa yang HIV + atau yang secara tidak sengaja tertular karena keteledoran orang dewasa. Anak-anak tetap saja anak-anak, pola pikir dan tingkat pemahaman mereka akan berbagai hal, jauh berbeda dengan orang dewasa. Kalau ada anak-anak yang terlantar dan akhirnya mendapat cap “anak aibon”, siapa yang salah? Mereka tidak minta dilahirkan, mereka tidak berharap menjadi “aibon”, mereka tidak memilih untuk menjadi demikian, apalagi menjadi pewaris virus mematikan.
Virus ini tidak memilih siapa yang cocok untuk menjadi ahli warisnya, semua orang bisa menjadi pilihan yang tepat buat virus ini berpindah, menetap, berkembang dan melaksanakan aksinya. Apalagi belum ada obat yang dapat membunuh virus ini, kalau virus ini diibaratkan sebagai manusia, bisa dibayangkan betapa anarkisnya virus ini sehingga tidak pilih-pilih siapa yang akan menjadi korbannya.
Pertanyaan yang menjadi pergumulan adalah, apakah Anda mau menjadi orang yang mewariskan virus ini? Pasti kita semua menolak menjawab “ya”.
Selain itu, ada hal lain yang mencemaskan, percaya atau tidak, masih ada banyak orang yang ingin melahirkan banyak anak karena menyadari bahwa tanah ini masih luas, air dan kekayaan alam berlimpah ruah untuk diwariskan. Benar, di tanah ini kita seharusnya beranak cucu sebanyak-banyaknya, seperti bintang di langit dan pasir di laut. Tapi ada masalah yang harus diketahui, disadari, dimengerti dan diselesaikan sebelum kita memenuhi tanah ini dengan anak cucu kita. Masalahnya adalah akan ada semakin banyak orang yang terinfeksi HIV/AIDS.
Kalau demikian keadaannya, apakah kita masih mau beranak cucu di atas tanah ini? Apakah kita akan bangga mewariskan penyakit yang mematikan dan bukannya mewariskan tanah dan kekayaan alam kita untuk diolah oleh anak cucu kita?
Mari pikirkan dan renungkan. Melakukan hubungan seks adalah sangat indah bila kita melakukannya dengan pasangan kita dan tidak berganti-ganti pasangan. Hamil dan melahirkan adalah pengalaman yang luar biasa bagi seorang perempuan apabila sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dalam arti, tidak hamil karena nafsu semata tetapi hamil karena telah menikah dan mengharapkan kehadiran anggota keluarga baru, sehingga tidak ada anak lahir tanpa kasih sayang, tidak ada bayi yang ditemukan menjadi mayat di tempat sampah atau di sungai, tidak ada anak yang lahir dengan mewarisi virus HIV dari kedua orang tuanya. Setiap orang yang mengaku beragama, seharusnya tahu kapan bisa melakukan hubungan seks dan dengan siapa.
Saudara-saudara kita yang mengetahui bahwa dirinya HIV+ pasti telah dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan yang cukup untuk mencegah berpindahnya virus ini, inilah fungsi dari klinik-klinik VCT (konseling dan tes HIV sukarela), selain konseling dan pemeriksaan, kita juga akan dibekali dengan informasi tentang HIV/ AIDS. Masalahnya adalah mereka yang menyadari kehidupan pribadinya “tidak beres” dan tidak mau memeriksakan diri. Sering kali masalah ini akan berlanjut pada masalah harga diri. Langkah awal yang bisa disarankan adalah, memeriksakan diri kita sendiri sebelum kita diperiksa oleh orang lain, setelah itu perlu keberanian untuk melakukan konseling dan tes HIV, dengan demikian kita akan tahu apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita. Mari, kita wariskan sesuatu yang berharga dan berarti buat anak cucu kita, jangan kita wariskan virus HIV!!
Amolonggo/Nimaome
September 30th, 2008 at 4:31 am
GAMBARAN UMUM KAB MIMIKA
SETIAP daerah memiliki sejarah. Sejarah Kabupaten Mimika sebagai daerah terkaya di Papua bermula dari sebuah pegunungan. Di balik bayangan pegunungan kapur setinggi lebih dari seribu meter di atas hutan tropis Papua, di utara Kecamatan Tembagapura, tersembunyi kekayaan mineral yang diperkirakan bernilai lebih dari 77 miliar dollar AS.
GUNUNG tembaga dan emas ini, Ertsberg, berdiri lebih dari tiga juta tahun dikelilingi jurang- jurang dalam yang terbentuk oleh gerusan es abadi yang mencair dan membeku sebagai pengaruh perubahan musim. Potensi tambang yang luar biasa areal pegunungan itu diungkap geolog Belanda, Jean Jacques Dozy, pada tahun 1936.
Penemuan ditindaklanjuti Manajer Eksplorasi Freeport Sulphur Company (sekarang Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc-induk PT Freeport Indonesia) pada tahun 1967 setelah penandatanganan kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia.
Setelah kandungan tembaga di tambang Ertsberg menipis, tahun 1988 ditemukan lokasi penambangan baru di Grasberg tak jauh dari Ertsberg. Tambang kedua ini memiliki cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia.
Produksi tambang dikirim ke pabrik-pabrik peleburan tembaga di berbagai negara, termasuk Gresik-Indonesia. Tahun 2002, PT FI menghasilkan konsentrat yang mengandung 1,8 miliar pon tembaga dan 2,9 juta ons emas dari penambangan sekitar 235.000 bijih tambang per hari. Konsentrat tembaga ini bermanfaat bagi penyediaan tembaga untuk perangkat komunikasi modern dan barang elektronik, pengadaan listrik dan keperluan industri lainnya.
Masuknya perusahaan bermodal asing pertama di Indonesia membuka keterisolasian daerah yang dikelilingi hutan, perairan, dan pegunungan ini. Infrastruktur terbangun dengan keberadaan kota modern, lapangan terbang, pelabuhan laut, dan fasilitas jalan. Lapangan kerja pun cukup terbuka meski tidak seratus persen menyerap penduduk lokal.
Ibarat magnet, penambangan PT FI menarik banyak pekerja yang melibatkan diri langsung kepada operasional penambangan ataupun usaha-usaha lain yang berkaitan dengan pertambangan. PT FI sebagai perusahaan tambang terbesar di Papua mempekerjakan sekitar 7.600 karyawan. Dari jumlah tersebut, 26 persen merupakan penduduk lokal Papua. Kondisi sumber daya manusia Papua yang kurang memiliki keterampilan dan pendidikan untuk bekerja menggunakan teknologi modern menjadi kendalanya.
Perusahaan-perusahaan pendukung kegiatan pertambangan bermunculan. Misalnya, perusahaan yang menyediakan kebutuhan listrik, jasa pelabuhan, jasa konstruksi, jasa konsultan, katering dan makanan. Di luar karyawan PT FI, terdapat sekitar 1.500 pekerja kontrak pada perusahaan-perusahaan yang khusus menyediakan jasa- jasa bagi PT FI.
Aktivitas ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja yang kian berkembang menyebabkan arus migrasi menjadi besar. Banyak pendatang dari luar Papua, seperti dari Jawa dan Sulawesi, yang mengadu untung mengisi kebutuhan tenaga kerja. Mereka yang tidak berhasil memasuki sektor formal yang mensyaratkan keterampilan dan pengetahuan yang memadai memasuki sektor nonformal, seperti menjadi tukang ojek.
Bila kehadiran perusahaan- perusahaan itu belum mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, sebenarnya ada peluang bagi penduduk lokal berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan. Peluang itu terkait dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari karyawan PT FI dan perusahaan lain. Sayangnya, bidang ini belum dikembangkan penduduk lokal.
Peluang boleh dikatakan cukup besar. Sebagai gambaran, peredaran uang di Mimika tahun 2002 tercatat Rp 600 miliar. Pengeluaran untuk konsumsi PT FI, satu miliar per hari. Namun, hasil-hasil pertanian dari Mimika atau daerah lain di Papua, seperti Jayawijaya dan Jayapura, belum mampu menutupi kebutuhan pokok PT FI.
Kebutuhan konsumsi warga PT FI hampir semuanya (sekitar 80 persen) dipenuhi melalui kiriman barang dari Surabaya dan Makassar sehingga tak heran bila harga-harga kebutuhan pokok di Mimika jadi tinggi.
Lapangan usaha penambangan di Mimika membuat pendapatan per kapita penduduknya tahun 2002 sebesar Rp 106,7 juta. Meski tergolong tinggi, jumlah ini menurun daripada tahun sebelumnya. Tahun 2001 malah mencapai Rp 150,8 juta.
Seluruh lapangan pekerjaan yang digerakkan penduduk lokal maupun pendatang menghasilkan perputaran uang Rp 11,8 triliun tahun 2002. Dari jumlah tersebut, 96,6 persen atau Rp 11,3 triliun dihasilkan dari sektor pertambangan. Ini tidak saja membuat pendapatan per kapita Kabupaten Mimika menjadi tinggi, namun juga memberi kontribusi besar terhadap penerimaan daerah.
Tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Mimika menerima Rp 108,37 miliar dari PT FI melalui pajak, retribusi atau bagi hasil. Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya, Rp 113,94 miliar.
Bila mengeluarkan sektor pertambangan dari penghitungan, total perekonomian tahun 2002 senilai Rp 410 miliar. Dari nilai tersebut, pendapatan per kapita Rp 3,7 juta. Lapangan usaha yang ditekuni penduduk adalah pertanian, khususnya hasil-hasil hutan dan tanaman pangan. Kegiatan sektor perhubungan, komunikasi, dan bangunan yang ikut terdongkrak memiliki nilai ekonomi tinggi selama PT FI dan perusahaan pendukung masih beroperasi.
Kekuatan perekonomian Mimika sampai saat ini dan tahun- tahun mendatang sepenuhnya bergantung pada pertambangan. Setidaknya, sampai berakhirnya kontrak karya kedua antara PT FI dan Pemerintah Indonesia tahun 2021, cadangan bijih tambang Grasberg 2,6 miliar ton di areal 202.950 hektar sanggup menggerakkan perekonomian daerah. Kekayaan inilah yang menjadi alasan Mimika memisahkan diri dari Kabupaten Fak-fak tahun 1999.
Amol/samole
October 8th, 2008 at 4:04 pm
Kritik Untuk Sdr yang Muat Informasi Ini.
Saudara sedikit kagum dan bangga terhadap potensi alam yang dimiliki Kab. Mimika, tak berpikir panjang hasil tersebut cukup dirasakan oleh masyarakat setempat atau tidak?, ambisi saudara untuk mengeksposkan berita-berita miring yang dipublikasikan oleh media massa milik PT Freeport Indonesai cukup tinggi. Saudara pun teragitasi oleh bahasa-bahasa manis PT FI. Kesimpulannya apakah saudara sudah puas dengan kondisi riil yang terjadi di kabupaten mimika sehingga sdr ulaskan perkembangan kondisi pemerintahan dan perekonomian di MImika? Apakah saudara telah melakukan penelitian ilmiah terhadap perkembangan ekonomi dan pemerintahan di kabupaten mimika sehingga berikan informasi kepada publik terkait kondisi daerah? Saya pikir kita mahasiswa jangan jadi alat yang mudah dipengaruhi…
Terlepas dari permaslahan diatas saya tawarkan suatu agenda kepada saudara bahwa, apabila sdr membanggakan daerah kita maka segera mendesak LPMAK supaya mereformasi sistem adminitrasi ataupun kelembagaan yang ada..Karena saya melihat aturan main yang ada di LPMAK jelas-jelas tidak akan membawah perubahan dan keuntungan bagi kita. Justru kita berpikir/belajar dibawa tekanan sebuah sistem, disana tentu ada unsur ketidak adilan, dana-dana besar digelapkan/berputar di lingkungan institusi yang bersangkutan, personal yang memimpin dilembaga tersebut rata-rata berpendidikan rendah sehingga berpikir kinerjanya sangat kaku. Jika saudara telusuri atas apa yang saya katakan ini pasti saudara akan ketemu permasalahannya.
Dasar pemikiran saya begini kenapa kita selalu bangga atas potensi alam yang kita punyai hasil tersebut sekian persen tentu kita olah sendiri namun SDM yang kita kembangkan sangat minim, putra/putri daerah yang kuliah diluar negeri sangat minim..melihat kondisi seperti ini apakah kita patut bangga terhadap pemerintah dan Freeport yang ada disana? saya pikir tidak…hal ini kita harus pikir dari sisi positif..
Salam
Amolongo-Nimao
February 3rd, 2009 at 3:08 pm
Berbagai Paradigma Civil Society
Pada awal perkembangan masyarakat civil society adalah tidak terluput dari tiga pilar utama yakni:
a.Masyarakat Madani
b.Masyarakat Sipil dan
c.Masyarakat Tradisional
sesuai dengan paradigma civil society diatas ini,kita perlu melihat tiga pilar utama inikan membutuhkan prosesnya dan melandasi intelektualitas yang tinggi,agar mudah masyarakat lokal bisa menerima dengan hati terbuka dan baik.
Terkait dengan program ipmami sejawa bali kedepan mengadaka bakti sosial ke kabupaten mimika itu, tidak mudah membalikkan telapak tangan-kaki dan jangan anggap cepat dilaksanakan.kemudian mengadakan program atau kegiatan itu sebagai rutinitas saja jadi kita harus mensosialisasi ke setiap korwil masing-masing dan mendiskusikan dalam setiap sub bidang yang ada seperti:
a.Ekonomi
b.Politik
c.Sosial dan Budaya
Ketika kita masuk ke daerah atau terjun ke lapangan itu tidak ragu dan bimbang,karena persiapannya sudah matang.
Tinggal kita “beck up” aja.
Salam/Amolonggo
M.Ricky Gaulmae
April 4th, 2009 at 4:07 am
Beberapa minggu ini saya dan keluarga berusaha untuk mendapatkan info mengenai Mimika,masih banyak distrik-distrik di Mimika yang memerlukan tenaga kesehatan, apakah ada yang bisa memberi info ke saya mengenai Puskesmas Jila? transportasi kesana ? dan info yang lain2nya. Terimakasih.