PAPUA DAN REALITA JALUR TRANSPORTASI

Author: Leonardus Tumuka  //  Category: Pembicaraan Umum

 

Pengaruh yang diakibatkan oleh minimnya jalur transportasi adalah terisolir dan terbelakangnya pembangunan daerah. Sebab pembangunan dan kemajuan adalah dua  hal yang tidak dapat dipisahkan dari seberapa lancarnya jalur transportasi. Semakin banyak dan lancar akses transportasi, pembangunan daerah pun dapat dipercepat

Papua memiliki Sumber Daya Alam yang sangat besar. Namun ia juga memiliki Berbagai kompleksitas persoalan mengenai pembangunan. Mulai dari kemajuan ekonomi masyarakat, akses pendidikan yang kurang maksimal karena pendidik cenderung memilih berada di daerah perkotaan, akses kesehatan yang jauh dari harapan serta berbagai persoalan lain yang turut seakan memberikan dukungan terhadap keterbelakangan pembangunan daerah merupakan realita yang nyata.

Secara logika dapat dipikirkan bahwa jika suatu daerah memiliki sumber daya alam yang besar, maka pembangunan daerah terutama berkaitan dengan akses transportasi dapat teratasi dengan mudah. Demikian pula berbagai persoalan yang mempengaruhi kemajuan Papua dapat diatasi dengan cepat, sebab ditunjang oleh ekonomi masyarakat yang terakomodir oleh tersedianya sumber daya alam dan transportasi yang menunjang.

Otonomi daerah yang semestinya menjadi pendukung kemajuan daerah pun belum memberikan dampak secara luas dan nyata dalam pembangunan masyarakat.  padahal Otonomi daerah dikeluarkan pemerintah untuk mencapai pemerataan pembangunan nasional. Demikian berbagai kebutuhan akan pembangunan daerah tertinggal dapat dapat diatasi. Namun tidak demikian, otonomi daerah seakan memberikan lahan bagi munculnya raja-raja baru, penguasa-pengusa daerah yang lebih cenderung berpikir singkat pada dataran kepentingan pribadi dan kelompok. Padahal otonomi daerah memungkinkan terwujudnya konsolidasi pembangunan daerah melalui sharing policy antara pemerintah daerah dan pemerintah provinsi yang kemudian dilanjutkan pada pemerintah pusat pun tidak tercapai. Ujung-ujungnya  rancangan pembangunan yang kurang proporsional yang menimbulkan ketertinggalan pembangunan pun terjadi dan kemajuan jauh dari harapan muncul dipermukaan. Hal itu berjalan terus menerus hingga wa;aupun ada rancangan pembangunan yang dikeluarkan oleh badan-badan terkait kurang memberikan dampak positif yang lebih signifikan bagi kemajuan daerah. Hasilnya lagi-lagi terdengar terjadinya kelaparan di daerah tertentu dan kemajuan di daerah lain, penderitaan di salah satu daerah dan kebahagiaan di daerah lain, serta sekelumit persoalan yang menjadi penghalang pembangunan daerah. Seakan kemajauan dihambat oleh sekelompok tertentu yang lebih mementingkan kepentingan yang terprogram. Tentu ini merupakan hal yang sangat disayangkan, sebab nyatanya masyarakat mengharapkan kemajuan  di berbagai sektor pembangunan.

 

Jalur transportasi Papua

Berkaitan dengan Jalur transportasi di Papua, transportasi pada umumnya bergantung pada transportasi udara. Jika transportasi udara lancar, maka perpindahan penduduk serta laju ekonomi masyarakat setempat akan semakin lancar. Demikian pula sebaliknya, jika transportasi udara semakin terbatas, maka akan berimplikasi terhadap kemajuan ekonomi masyarakat dan akan membatasi akses masyarakat dari daerah yang satu ke daerah yang lain yang kemudian terisolir.

Harga yang mahal di daerah pedalaman yang tidak proporsional dengan pendapatan masyarakat merupakan hasil dari terbatasnya akses transportasi yang turut mewarnai kemajuan ekonomi masyarakat. Masyarakat hanya berkerja membanting tulang selama sebulan untuk mendapatkan uang sebesar 500 ribu dengan menjual hasil perkebunan selama sebulan hanya untuk membeli semen yang satu sakunya seharga Rp 500 ribu Rupiah. Hal itu Itu merupakan hal yang wajar sebab  semen yang dimaksud diangkut dari dataran rendah menggunakan transportasi udara.

Jika hal tersebut terjadi pada masa sebelum krisis global, bagaimana jika pada masa krisis global seperti saat ini? Tentu implikasinya yang dirasakan oleh masyarakat akan lebih berat. Apalagi masyarakat yang mengalami trauma akibat PHK, yang kemudian berhadapan dengan situasi dimana tranportasi yang mahal menjadi masalah. Bisa dibayangkan berapa jumlah orang yang akan mengalami depresi dan menyebabkan gangguan jiwa.

Kapan Papua akan memiliki jalur transportasi darat? Hal itu belum jelas namun tetap menjadi agan-angan masyarakat. Sebab ada berbagai hal yang yang turut mempengaruhi terwujudnya keinginan tersebut. Banyak gunung yang menjulang tinggi, rawa yang membentang serta sungai-sungai yang tidak sedikit yang siap membelokkan keinginan akan terwujudnya transportasi darat yang menghubungkan wilayah pedalaman dan pelabuhan. Lalu kapan Papua akan memiliki akses transportasi darat antar daerah sehingga dapat mempermudah kemajuan akses ekonomi Papua? Hal tersebut akan terwujud jika pemerintah daerah, baik Kabupaten maupun Provinsi Papua mau berkonsolidasi memikirkan secara serius kemajuan Papua, dan bertindak sesegera mungkin guna mengatasi kebutuhan akses ekonomi masyarakat  Papua ke depan.

 

lihat pula di:

http://Ltumuka.blogspot.com

http://Kayapak.blogspot.com

 

 

DAMPAK KRISIS GLOBAL BAGI KARYAWAN LOKAL PERUSAHAAN TENDERAN PT. FREEPORT DI KAB. MIMIKA

Author: Leonardus Tumuka  //  Category: Pembicaraan Umum

 

 

Pengaruh yang diakibatkan oleh krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat atau yang lebih dikenal dengan Krisis Global 2008, telah menyebabkan adanya PHK besar-besaran hampir di seluruh belahan dunia. Data pemerintah Amerika Serikat yang dirilis pada bulan oktober 2008 menunjukkan jumlah pekerja yang di-PHK  di Amerika serikat berjumlah 478 ribu orang. Pada perkembangan selanjutnya bulan Desember walstreet kembali mengumumkan jumlah PHK mencapai 152.000. hal itu merupakan jumlah PHK terbesar yang melebihi estimasi yaitu  85.000 orang.

Akibat lain dari Krisisi tersebut adalah ditariknya bursa saham pada berbagi sektor investasi yang turut mempengaruhi rontoknya bursa saham dunia.

Di Indonesia menurut  laporan Kompas edisi 15 Desember 2008 yang ditulis oleh sulistiono, Krisis ekonomi Global menyebabakan terjadinya PHK cukup besar yaitu mencapai 17.400 orang.

Di Indonesi Timur khususnya Mimika, PHK telah menyebabkan karyawan lokal yang berasal dari Mimika mengalami hilangnya lapangan kerja. CV. Tomi Irja misalnya, yang menjadi perusahaan tenderan PT. Freeport, yang bekerja sama dengan TRMP (Tailing River Menagement Proyek), telah mengeluarkan hampir mencapai 100% tenaga kerja yang berasal dari masyarakat lokal.

Demikian yang dialami Oleh beberapa karyawan yang bekerja di PT. Pangansari Mitra Ternak Industri, yang telah memPHK 39 Karyawan tetap dan 3 karyawan kontrak, serta beberapa karyawan lain yang belum sempat diberitakan oleh Media massa.

Bagi masyarakat Mimika, khususnya mereka yang bergantung pada sektor pertanian yang belum terdaftar pada sektor Eksport-Inpor, krisis ekonomi global tidak terlalu dirasakan. Sebab kebutuhan pasar tetap tinggi. Demikian pula bagi mereka yang telah melakukan investasi pada jangka waktu sebelum krisis global pada sektor lain, krsis yang terjadi saat ini tidak akan terlalu di rasakan.

Namun satu hal yang pasti harus dilakukan oleh Pemrintah daerah Mimika adalah segera mencari solusi dengan melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan di Mimika guna menyelamatkan karyawan-karyawan yang telah lama bekerja pada perusahaan-perusahanaan sekita Kab. Mimika. Bila perlu Pemeintah daerah dapat mmencari solusi dengan mengeluarkan paket bantuan untuk meminimalisir terjadinya pengangguran di Mimika secara besar-besaran.