Timika Terancam Lembah Mercury

Author: MARKUS YONAS DIBITAU  //  Category: Pembicaraan Umum

Distamben dan Instansi Terkait Diminta Turun Lapangan

TIMIKA – Maraknya praktek pemisahan emas dulangan di dalam Kota Timika yang diduga menggunakan media bahan kimia merkuri mulai dikeluhkan warga yang ber­mukim di sekitarnya. Selain itu, akibat praktek ini Kota Timika terancam terkena dampak negatif dari penggunaan merkuri tersebut.

Ironisnya, Pemda Mimika dalam hal ini Dinas Pertambangan dan Energi Mineral (Distanbem) Mimika serta instansi terkait terkesan menutup mata terhadap praktek illegal tersebut. Pa­dahal, penggunaan bahan kimia merkuri untuk kegiatan pertambangan atau praktek pemisahan bahan tam­bang merupakan kegiatan yang bisa dikategorikan melanggar hukum.

Dari pantauan Radar Timika, diketahui ada puluhan tempat prak­tek pemisahan emas yang diduga menggunakan merkuri yang bero­perasi di Kota Timika seperti di sekitar Gorong-Gorong, Jalan Bou­genvile dan Jalan Padat Karya (Be­lakang Serayu Hotel). Hebatnya, praktek dugaan penggunaan bahan kimia mercuri tersebut dilakukan secara terang-terangan tanpa mempedulikan kesehatan lingkungan warga di sekitarnya.

Seperti diketahui, mercuri adalah salah satu bahan kimia berbahaya yang tiak bisa terurai secara alami. Selain itu penyalahgunaan terhadap bahan tersebut bisa mengakibatkan cacat permanen terhadap janin serta bisa menurunkan kemampuan otak (idiot). Untuk itu Pemda Mi­mika harus lebih tegas dalam pengawasan penggunaan sekaligus pengelolaan limbah mercuri dalam industri penambangan emas dan penambangan emas rakyat yang masih marak di daerah ini.

Menurut salah seorang warga Gorong-Gorong, Samuel yang dite­mui Radar Timika di Kantor Penga­dilan Negeri Timika, saat ini me­mang belum ada dampak langsung yang dirasakan. Namun untuk, menghindari hal-hal yang bisa merugikan warga ia meminta kepada para pedagang emas untuk tidak menggunakan bahan kimia tersebut.

“Karena jika secara terus mene­rus digunakan maka dampak nega­tif akan dirasakan warga sekitar­nya,” ujarnya. Selain itu, dirinya juga meminta agar pihak yang ber­wenang dapat melakukan penerti­ban terhadap para pedagang emas yang menggunakan bahan kimia mercuri agar segera dihentikan.

“Saya prihatin karena jika ini dibiarkan tanpa ada tindakan tegas dari instansi terkait kesehatan warga yang akan terganggu,” kata Samuel. Untuk itu ia mengharapkan agar instansi yang berwenang turun lansung ke lapangan melihat kegiatan praktek pemisahan emas di sejumlah lokasi di Timika. (ino)

3 Responses to “Timika Terancam Lembah Mercury”

  1. erick yoku Says:

    Kalau pemerintah merasa masyarakat itu miliknya pasti pemerintah memperhatikan masyarakatnya.

    Melihat situasi yang terjadi di Timika saat ini dengan adanya berita mengenai penggunaan merkuri oleh oknum2 tidak bertanggung jawab maka pihak pemerintah secepatnya mengambil langkah tegas sebelum dampak yang lebih buruk terjadi. Karena efek dari merkuri bisa merusak struktur sel manusia.

    setiap masalah ada solusinya ??

  2. Amoye Yeimo Says:

    Itu masalah besar dan tanggungjawab kita semua jadi, menurut saya coba teman-teman mahasiswa melakukan penelitian secara mendalam terutama teman2 yang kuliah di Jurusan Biologi/ atau tidak mendesak pemerintah untuk membantu dana penelitian kepada lembaga2 ilmiah seperti LIPI/ UNIVERSITAS2 TERKEMUA DAN TERKENAL. supaya ada sulusi untuk mengatasih masalah ini.

    Terima kasih

    Amolonggo

  3. erick yoku Says:

    Saya lagi kumpul referensi tuk sementara waktu… mengenai dampak dari limbah yang dibuang oleh PT FREEPORT INDONESIA terhadap biota yang hidup di kabupaten Mimika.

    Jika tidak ada halangan saya mungkin akan penelitian tentang toksikologi di dalam sagu atau tidak kepiting.

    Selama ini kelihatannya tidak ada publikasi kepada masyarakat sekitar areal pertambangan maupun pembuangan limbah.

    Judul yang sangat menarik!!!!

Leave a Reply