Profil Nalio Jangkup, Pilot Amungme Pertama
Author: Minggus Renyaan // Category: Pembicaraan Umum, PengumumanTerinspirasi setelah melihat para pilot misionaris menerbangkan pesawat helikopter di pedalaman Papua, terutama di kampung Arwanop, timbul keinginan di dalam diri Nalio Jangkup, lelaki asli Amungme untuk menjadi seorang pilot. Anak pertama dari empat bersaudara ini akhirnya bisa berbangga setelah dinyatakan lulus menjadi Pilot di Aero Flyer Institute di Curug, Banten (20/2).

“Belalang yang terbuat dari besi itu bisa terbang,” ujar Nalio mengingat masa kecilnya ketika pertama kali melihat pesawat terbang. “Sejak kecil, saya punya tekat menjadi pilot. Saya dapat inspirasi ini dari melihat para penerbang pilot misi dari Mission Aviation Fellowship (MAF), Association Mission Aviation (AMA) dan Airfast. Namun, saya terkendala kurang info, kesempatan dan biaya untuk sekolah pilot,” demikian penjelasan Nalio.
Hal itu tak lantas menyurutkan keinginannya untuk menjadi seorang pilot, hingga ia memperoleh kesempatan studi di Deraya Flying School Jakarta di tahun 2008 lalu. Sebelumnya, Nalio memperoleh Private Pilot License di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma. Selama menekuni studinya, Nalio didukung oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), PT Freeport Indonesia (PTFI) dan pihak-pihak lain.

Tahun 2009, Nalio berkesempatan belajar di Aero Flyer Institute di Curug, Banten. Dengan menghabiskan jam terbang selama 160 jam akhirnya Nalio lulus dari Private Pilot License (PPL) dan Commercial Pilot License – Instrument Rating (CPL-IR). Pada tanggal 20 Februari 2010 ia diwisuda menjadi pilot pertama Amungme dari Kabupaten Mimika dengan pencapaian hasil memuaskan. “Selagi menunggu izin keluar saya mengambil Instrument Rating yang dibutuhkan sekitar 15 jam terbang selama dua atau tiga minggu,” tuturnya.
“Setelah itu saya ingin kembali ke Papua dan mendapat peluang bekerja sebagai pilot maskapai penerbangan,” paparnya. Nalio berharap kelak akan bermunculan putra-putri Papua yang belajar menerbangkan pesawat. Saat ini ada beberapa teman Nalio yang sedang belajar di Aero Flyer Institute yaitu: Natham Aim dari suku Amungme, Oteanus Hagabal dari suku Damal dan Marselino Zonggonau dan Jeremia Goni dari suku Moni.
“Semua ini dikarenakan anugerah Tuhan dibarengi dengan kerja keras. Selain saya sebagai pilot pertama dari suku Amungme dari kabupaten Mimika, mudah-mudahan ini menjadi contoh untuk adik-adik,” katanya. Dukungan besar dari Pemerintah Daerah, LPMAK, PTFI dan pihak-pihak lain yang telah memberikan kesempatan baginya dan putra-putri Papua menjadi pilot yang lebih handal sangat disyukurinya.
Sumber: (ss) — http://www.ptfi.co.id/news/eBK/gen_ebk.asp?ed=20100308


